METODE SIX SIGMA
Six
Sigma
Six
Sigma
adalah konsep yang mengutamakan penurunan
variasi proses dan memininmalisir kegagalan atau
kecacatan produk (Gaspersz,
2011).
Six sigma merupakan metodologi yang digunakan dalam usaha melakukan perbaikan dan peningkatan kualitas dal proses yang terus menerus. (Feigenbaum, 1994) six sigma
merupakan manajemen yang dapat digunakan untuk mengganti total quality management (TQM) sangat terfokus terhadap
pengendalian kualitas dengan mendalami sistem produksi perusahaan secara
keseluruhan.
1. Keuntungan Six Sigma
Dalam penerapan metode Six Sigma di dapatkan beberapa keuntungan yang berbeda pada perusahaan yang diterapkan. Biasanya Six Sigma membawa perbaikan pada hal-hal
berikut ini:
a.
Dapat mengurangan
biaya.
b.
Meningkatkan
dalam perbaikan
produksi.
c.
Retensi pelanggan.
d.
Dapat mengurangi waktu siklus.
e.
Meminimalisir kecacatan.
f.
Dapat mengembangan usaha produk dan
jasa.
2. Tahapan Six Sigma
Dalam
metode Six Sigma, terdapat 5 siklus fase DMAIC (Define, Meansure, Analyze, Improve, Control) merupakan proses untuk
peningkatan
terus menerus menuju target Six Sigma. DMAIC adalah proses close-loop
yang dimana menghilangkan
langkah-langkah proses yang sekiranya tidak produktif, dan sering berfokus pada pengukuran baru. Menurut Ariani (2014) terdapat beberapa langkah six sigma. Berikut merupahan
langkah_langkah dalam melakukan perhitungan Six
sigma :
a.
Define adalah fase
menentukan masalah, menetapkan psyarat-syarat penggunaan metode
six sigma.
b.
Meansure adalah dimana dalam tahapan operasional
pada program peningkatan kualitas six sigma yang terdapat 3 hal pokok yang dilakukan
yaitu;(Gaspersz, 2002)
>.
Menentukan Karakteristik Kualitas Kunci, CTQ ditentukan memiliki hubungan langsung
dengan kebutuhan yang di inginkan pelanggan yang
didapat secara langsung dari
persyaratan-persyaratan output dan pelayanan.
>.
Mengembangkan rencana pengumpulan data, karakteristik
kualitas yang di ukur dapat dilakukan
pada 3 tingkatan yaitu: merencanakan pengukuran pada tingkat proses, melakukan
pengukuran pada tingkat output,
dan merencanakan pengukuran
pada
tingkat outcome
dan kinerja.
c.
Analisis (Analyze), adalah fase dimana mencari dan menentukan sumber penyebab masalah. Masalah yang ada terkadang sangat
kompleks dan bervariasi sehingga cukup membingungkan untuk mana yang seharusnya akan dan tidak kita
selesaikan.
d.
Improve, merupakan langkah operasional dalam program
peningkatan kualitas six sigma. Dalam sebuah perencanaan tindakan akan menjelaskan tentang alokasi
sumber daya serta prioritas dan alternatif yang
dilakukan dalam implementasi dari rencana tersebut. Tim proyek six sigma dapat
menggunakan diagram cause effect with additional cure (CEDAC) yang
dikombinasikan dengan metode 5W+2H ( Gaspersz, 2002)
e.
Kontrol, adalah langkah operasional terakhir dalam proyek peningkatan
kualitas six sigma. Tahap ini memberikan dokumentasi, dalam
prosesnya praktek terbaik yang sukses dalam meningkatan proses di jadikan pedoman dan disebarluaskan,
prosedur di dalamnya
didokumentasikan dan dijadikan
pedoman kerja standar (Gaspersz, 2002).
3. Konsep
Six Sigma Motorola
Metode Six
Sigma dapat dijadikan ukuran target kinerja sistem industri tentang
bagaimana baiknya suatu proses transaksi produk anatara pemasok (industri) dan
pelanggan (pasar). Semakin tinggi target sigma yang dicapai maka kinerja sistem
industri akan semakin baik.
Beberapa istilah
yang menjadi kunci dalam konsep Six Sigma
Motorola adalah:
1.
Black Belt
merupakan pemimpin tim yang bertanggung jawab untuk pengukuran, analisis,
peningkatan, dan pengendalian proses proses kunci yang mempengaruhi kepuasan
pelanggan dan pertumbuhan produktivitas. Black
Belt adalah orang yang menempati posisi pemimpin penuh waktu (full time position six sigma).
2.
Green Belt
merupakan pemimpin tim yang bertanggung jawab untuk pengukuran, analisis,
peningkatan, dan pengendalian proses-proses kunci yang mempengaruhi kepuasan
pelanggan dan pertumbuhan produktivitas. Green
Belt adalah orang yang menempati posisi pemimpin tidak penuh waktu (not full time position).
3.
Master Black
Belt merupakan guru yang melatih Black
Belt, sekaligus merupakan mentor dan atau konsultan proyek Six Sigma yang sedang ditangani oleh Black Belt.
4.
Champion
merupakan individu yang berada pada manajemen atas (top management) yang
memahami Six Sigma dan bertanggung jawab untuk keberhasilan Six Sigma. Dalam organisasi besar, Six Sigma akan dipimpin oleh individu
penuh waktu, high level champion.
Satu hal yang
perlu digaris bawahi adalah konsep Six Sigma yang dikembangkan oleh Motorola
dengan pergeseran nilai rata-rata (mean)
dari proses yang diizinkan sebesar 1.5 sigma. Pergeseran tersebut menyebabkan
kelonggaran terhadap peluang munculnya cacat produk per sejuta kesempatan. Hal
tersebut berbeda dari konsep Six Sigma
dalam distribusi normal yang umum dipahami selama ini yang tidak mengizinkan
adanya pergeseran dalam nilai rata-rata dari proses. Perbedaan True 6-sigma process dengan Motorola’s 6-sigma Process ditunjukan
pada Tabel 3.2
Tabel
3.2 Perbedaan True 6-sigma process
dengan Motorola’s 6-sigma process
True 6-sigma process
(Normal Distribution Centered)
|
Motorola’s
6-sigma process
(Normal
Distribution Shifted 1,5-sigma)
|
||||
Batas spesifikasi (LSL-USL)
|
Persentase yang memenuhi
spesifikasi (LSL-USL)
|
DPMO (kegagalan/cacat per
sejuta kesempatan)
|
Batas spesifikasi (LSL-USL)
|
Persentase yang memenuhi
spesifikasi (LSL-USL)
|
DPMO (kegagalan/cacat per
sejuta kesempatan
|
+- 1-sigma
|
68,27%
|
317.3
|
+- 1-sigma
|
30,85%
|
691.462
|
+- 2-sigma
|
95,45%
|
45.5
|
+- 2-sigma
|
69,15%
|
308.538
|
+- 3-sigma
|
99,73%
|
2.7
|
+- 3-sigma
|
93,32%
|
66.807
|
+- 4-sigma
|
99,99%
|
63
|
+- 4-sigma
|
99,38%
|
6.21
|
+- 5-sigma
|
100,00%
|
0,57
|
+- 5-sigma
|
99,98%
|
233
|
+- 6-sigma
|
100,00%
|
0,002
|
+- 6-sigma
|
100,00%
|
3,4
|
Sumber: Gasperz,
2002

Komentar
Posting Komentar